Custom Search

Jiwa Besar = Jiwa Pemberi

Senin, 04 Juni 2012 0 komentar

Jiwa Besar = Jiwa Pemberi

“Tangan diatas (penginfak/pemberi) itu lebih baik dan lebih mulia daripada tangan dibawah (peminta) (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
“Mereka (orang-orang yang bertaqwa itu) adalah orang-orang yang selalu berinfak (memberi), baik saat senang atau lapang maupun kala susah atau sempit” (QS. Ali ‘Imraan [3]: 134).
“Adapun barang siapa yang memberi, bertaqwa dan membenarkan balasan terbaik (Surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan/kebahagiaan” (QS. Al-Lail [92]: 5-7).
“Sedangkan barang siapa yang kikir (enggan memberI), congkak karena merasa tidak butuh (kepada rahmat Allah), dan mendustakan balasan terbaik (Surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran/kesengsaraan (QS. Al-Lail [92]: 8-10).
Maka jiwa besar itu adalah jiwa pemberi. Sedangkan jiwa kerdil adalah jiwa peminta-minta kecuali kepada Allah Ta’ala. Dan semua kita bebas memilih untuk berjiwa besar atau bermentalitas kerdil.
Namun agar seseorang bisa berjiwa besar dan bermentalitas pemberi, diperlukan untuknya dasar keimanan yang baik, kesadaran yang memadai dan pembiasaan diri yang cukup.
Sementara itu perlu dipahami dan disadari benar bahwa, dalam kaedah fiqih pemberian, yang terpenting itu bukanlah apa dan berapa kadar yang diberikan. Melainkan seikhlas apa hati seseorang saat memberikan apapun yang dipunyainya.
Sebagaimana penting sekali selalu diingat bahwa, setiap pemberian, apapun bentuknya dan seberapapun kadarnya, bisa bernilai sedekah tinggi, termasuk dengan sekadar memberikan senyuman cerah, sapaan ramah atau kata-kata yang mengarah dan menggugah.
Dan satu kaedah lagi yang sangat penting diingat dan disadari bahwa, jika kita telah ikhlas, jujur dan sungguh-sungguh memilih jalan hidup untuk berjiwa besar dengan menjadi pemberi, maka kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa, Allah pasti menjamin untuk selalu menyediakan apa-apa yang harus dan laik kita berikan.
Dan sebagai penutup, jangan lupa pula kaedah ini. Yaitu bahwa, saat dalam kondisi dan situasi leluasa memilih, sebisa mungkin utamakan dan prioritaskanlah selalu bentuk-bentuk atau jenis-jenis pemberian yang bernilai istimewa, yakni yang memperhatikan, mempertimbangkan, dan memadukan antara kemampuan yang ada dan kebutuhan penerima.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith-thariq, wa Huwal Hadi ila sawa-issabil.


sumber : http://ustadzmudzoffar.wordpress.com
Baca selengkapnya »

Mengapa Peluang Kebaikan Tak Termanfaatkan?

Minggu, 03 Juni 2012 0 komentar
Mengapa Peluang Kebaikan Tak Termanfaatkan?


Peluang-peluang kebaikan dan kebajikan dalam hidup ini tidak hanya ada, tapi bahkan sangat banyak sekali, sampai tak terbilang. Kita saja yang lebih sering tidak menyadari dan tidak memanfaatkan peluang-peluang yang selalu datang dalam hidup kita dari waktu ke waktu. Karena kaedahnya memang mengatakan bahwa, selama ada orang baik dan juga niat baik, maka peluang-peluang kebaikan dan kebajikan itu otomatis akan ada dan hadir bersamanya atau karenanya.

 Jadi mari semua fokus membaikkan dan membajikkan diri, baik diri sendiri masing-masing, maupun juga diri orang lain secara bersama-sama. Nah, jika demikian halnya, lalu mengapa banyak peluang kebaikan dan kebajikan justru tidak termanfaatkan atau tidak teroptimalkan pemanfaatannya? Jawabannya bisa banyak dan bermacam-macam, antara lain sebagai berikut:

 1. Karena potensi, semangat dan spirit kebaikan dan kebajikan dalam diri kita dan di masyarakat, masih minim dan lemah. Nah, jika potensi, semangat dan spirit kebaikan dan kebajikan dalam diri, minim dan lemah, maka jangankan untuk memanfaatkan atau apalagi mengoptimalkan pemanfaatan setiap peluang kebaikan dan kebajikan yang ada, bahkan sekadar untuk menyadari dan mengetahuinya sajapun tidak bisa. Karena jika semangat kebaikan dan kebajikan dalam diri seseorang lemah, apalagi tidak ada, maka tentu ia akan abai dan tidak peduli, apakah peluangnya ada ataukah tidak.

 2. Karena tanpa sadar ternyata kita masih sering diskriminatif tentang bidang-bidang kebaikan dan kebajikan. Begitu pula bidang dan jenis kebaikan dan kebajikan sering dibatasi hanya yang sesuai dengan mood dan selera sebagian kita saja. Dimana untuk jenis-jenis kebaikan, kebajikan dan ketaatan yang sesuai dengan mood, selera dan keinginan pribadi, tidak jarang sampai dipaksa-paksakan, meskipun sebenarnya peluang yang tersedia tidaklah cukup memadai, atau jenis kebaikan, kebajikan dan ketaatan yang diingini itu bukan termasuk yang utama. 

Sementara itu sebaliknya, untuk jenis-jenis kebaikan, kebajikan dan ketaatan yang kurang atau tidak sesuai dengan mood, selera dan keinginan pribadi, umumnya terabaikan dan tidak atau kurang terpedulikan secara memadai, meskipun peluang-peluangnya sebenarnya sangatlah besar dan banyak. Sebagai contoh misalnya, betapa sering berlebihannya mood dan semangat masyarakat muslim untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Sampai-sampai yang sebenarnya belum wajib karena belum berkemampuan pun memaksakan diri dengan beragam jalan dan cara untuk bisa sampai ke Tanah Suci. Sehingga tak sedikit dampak negatif dan akibat buruk pun terjadi, gara-gara semangat berlebihan dan pemaksaan diri tersebut. Di sisi lain banyak kaum muslimin berkemampuan finansial tinggi, yang juga “memaksakan diri” untuk berhaji dan berumrah berkali-kali, dengan beaya yang sangat besar. Padahal seandainya sebagian saja, tidak harus semua, dari beaya haji dan umrah sunnah yang berkali-kali itu, diinfakkan untuk menutup sebagian kecil kebutuhan yang sangat mendesak di jalur sosial, pendidikan dan dakwah, niscaya akan lebih besar manfaatnya dan lebih tinggi nilai dan pahalanya. Namun fakta dan realitanya, memang sangat sedikit sekali yang memiliki mood dan semangat berinfak dengan kadar separoh dari mood dan semangat berhaji dan berumrah, apalagi setara atau melebihi. 

3. Karena ternyata para pendukung keburukan dan kejahatan sering justru lebih gigih dan lebih “istiqamah” dalam membela dan memperjuangkan keburukan dan kejahatan mereka, serta menciptakan peluang-peluannya dan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatannya, daripada para pegiat kebaikan dan kebajikan dalam menemukan dan memanfaatkan peluang-peluang yang telah tersedia. Termasuk ikatan “wala’” dan jalinan kerja sama antar kelompok pertama itu, juga tak jarang lebih riil dan lebih kuat dibandingkan dengan ikatan dan jalinan yang sama yang ada dan terjadi di antara kelompok kedua. 

4. Karena kebanyakan orang baik dan saleh justru lebih memilih posisi pasif dan peran pengikut, yang baru mau bergerak untuk mendukung kebaikan dan kebajikan serta memanfaatkan peluang-peluangnya, hanya kala ada unsur penggerak dan pelopor yang memulai dan mengajak mereka. Nah, karena sikap pasif saling menunggu ajakan dan kepeloporan yang lain inilah, peluang-peluang kebaikan dan kebajikan seringkali terabaikan dan tidak termanfaatkan. Sehingga akibatnya, peluang-peluang itupun kebanyakan “menguap” begitu saja. Oleh karena itu, agar peluang-peluang kebaikan dan kebajikan senantiasa bisa teroptimalkan pemanfaatannya, adanya individu-individu penggerak dan pelopor adalah salah satu prioritas utama di dalam dakwah, dan bahkan merupakan sebuah keniscayaan dan kemutlakan. Sementara itu, untuk menjadi unsur pelopor dan penggerak kebaikan serta kebajikan di tengah-tengah masyarakat dan ummat memang berat sekali. Makanya nilai dan pahalanya pun berlipat-berlipat sesuai jumlah orang-orang yang digerakkan dan ikut. 

5. Faktor dan fenomena perselisihan ekstrem antar berbagai kelompok ummat. Harap dicatat bahwa, masalah yang dimaksud disini bukanlah sekadar faktor keragaman dan perbedaan kelompok serta golongan ummat. Namun yang dimaksud secara khusus adalah faktor perselisihan ekstrem. Sekali lagi: faktor perselisihan ekstrem, yang sudah tidak ditolerir, baik secara logika, maupun apalagi dalam ketentuan hukum syariah. Ya, akibat faktor perselisihan ekstrem dan perpecahan tercela antar kelompok, golongan, organisasi, jamaah dan harakah di dalam tubuh ummat inilah, seringkali kita saksikan atau kita dengar tentang berbagai peluang kebaikan dan kebajikan yang telah ada di depan mata, akhirnya justru terlewatkan secara sia-sia dan lenyap begitu saja entah kemana. Wallahul Musta’an!

Baca selengkapnya »

Dahsyatnya Persepsi

0 komentar

Dahsyatnya Persepsi

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman: ”Aku sesuai persangkaan/persepsi (baik/buruk) hamba-KU terhadap-KU” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jadi persepsi itu memiliki kekuatan yang dahsyat dalam diri dan kehidupan setiap orang, berkat backup Allah Ta’ala terhadapnya. Baik itu untuk persepsi positif maupun persepsi negatif.
Dengan demikian, berarti baik atau buruk, dan positif atau negatif dalam hidup kita selama ini dan selanjutnya, sebenarnya  semua bersumber dari diri kita sendiri. 

Yakni dari persepsi kita terhadap Allah.
Maka mari jujur bertobat dan beristighfar, lalu memulai memperbaiki arah dan pola hidup dengan jalan dan cara memperbaiki  arah serta pola persepsi kita terhadap  Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bila persepsi kita terhadap Allah baik dan positif, maka akan baik dan positiflah persepsi kita terhadap diri sendiri, orang lain, alam sekitar dan kehidupan secara umum.
Dan bila persepsi kita terhadap diri sendiri, orang lain, alam sekitar dan kehidupan, baik dan positif, maka akan baik dan positif pulalah semua yang kita terima dan alami dalam hidup ini.

Namun agar berdampak dahsyat, persepsi positif terhadap Allah haruslah tampak menyeluruh dalam pola pikir, pola rasa, mentalitas dan pola sikap kita.
Sementara itu, inti husnudzan kepada Allah adalah keyakinan kuat bahwa, segala sesuatu dalam hidup ini adalah dari Allah, dan semua yang dari Allah pasti baik dan positif.

sumber http://ustadzmudzoffar.wordpress.com
Baca selengkapnya »

Iman = Peduli

0 komentar

Iman = Peduli

Iman adalah peduli. Maka tiada iman tanpa kepedulian.  Dan level iman seseorang ditentukan antara lain oleh tingkat kepeduliannya. Beriman tapi tidak peduli? Pasti ada masalah dengan imannya.
Mengapa kita harus peduli? Karena peduli adalah bukti awal rasa tanggung jawab. Sedangkan kita akan ditanya dan diminta pertanggungan jawab tentang segala  yang kita dengar dengan nikmat pendengaran, kita lihat dengan nikmat penglihatan dan kita pikirkan dengan nikmat pikiran serta hati kita (QS. Al-Israa’: 36)
Mengapa kita harus peduli? Karena peduli itu baik dan sumber kebaikan. Sebaliknya, segala kerusakan pasti bermula dari sifat dan sikap ketidak pedulian

Mengapa keburukan, kemaksiatan dan kejahatan merajalela di tengah-tengah masyarakat kita, kalau bukan gara-gara kepedulian moral dan sosial yang telah hampir punah?

Siapa yang peduli? Ketika moralitas, mentalitas, martabat dan harga diri telah nyaris tak berbekas dan tak punya tempat lagi di negeri ini. Adakah yang masih peduli?

Siapa yang peduli? Ketika pihak-pihak  yang terbukti lebih loyal kepada kekuatan dan kepentingan luar, tetap saja selalu dipercaya dan diberi jalan lapang serta peluang lebar untuk  bebas “mengurus” negeri. Adakah yang masih peduli?

Siapa yang peduli? Ketika satu persatu asset bangsa dan negara tergadai, terjual dan pindah ke tangan asing. Adakah yang masih peduli?

Siapa yang peduli? Ketika mayorias rakyat dan putra bangsa justru hanya menjadi pekerja upahan dan kuli sewaan di negeri sendiri. Adakah yang masih peduli?

Siapa yang peduli? Kemana perginya mayoritas kekayaan alam anugerah ilahi tak ternilai, yang membuat semua bangsa iri? Adakah yang masih peduli?

Siapa yang peduli? Ketika penentu utama segala urusan dan kepentingan bangsa justru sudah bukan lagi berada di tangan putranya sendiri! Adakah yang masih peduli?

Siapa yang peduli? Ketika terhadap beragam peristiwa besar di negeri ini, jangankan untuk berpikir tentang solusi, bahkan kitapun lebih sering tidak tahu secara pasti apa yang sebenarnya terjadi? Lalu adakah yang masih peduli?



sumber : http://ustadzmudzoffar.wordpress.com
Baca selengkapnya »

Parameter Kesalehan

0 komentar

parameter

Parameter Kesalehan

Yang umum, kesalehan seseorang selalu diukur dengan standar ibadah ritualnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru lebih menekankan aspek kesalehan sosial.
Meskipun yang ideal tentulah yang padu kesalehan ritual dan kesalehan sosialnya sekaligus. Akan tetapi dengan kesalehan sosial-lah Islam akan tampak dan tampil indah. Begitu pula hiduppun menjadi demikian luar biasa indah.



Mari mencermati beberapa contoh hadits berikut ini.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Muslim yang baik adalah ketika orang lain telah merasa aman dari gangguan lidah dan tangannya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para sahabat RA. bertanya: Siapakah gerangan ya Rasulallah? Beliau menjawab: “Dia adalah seseorang yang membuat tetangganya tidak merasa aman dari gangguan dan keburukannya” (HR. Al-Hakim).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Penyantun janda tua dan orang miskin itu nilainya setara dengan orang yang berjihad fi sabilillah, atau seperti orang yang berpuasa tanpa putus dan yang shalat malam tanpa henti” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang tidur malam dengan kenyang,  sedangkan ia tahu bahwa, tetangga sebelahnya tengah kelaparan” (HR. At-Thabrani, Al-Bazzar dan lain-lain, serta dihasankan oleh Al-Albani).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Maukah kalian Aku beri tahu tentang amal yang lebih tinggi daripada derajat puasa, shalat dan sedekah?”. Para ahabat menjawab: Tentu saja kami mau. Beliau lalu melanjutkan sabdanya: “Yaitu mendamaikan hubungan sesama. Karena rusaknya hubungan sesama itu ibarat gunting penyukur. Tapi bukan gunting yang mencukur rambut, melainkan yang menggunting agama” (HR. Abu Dawud).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kamu, sampai ia mampu menyukai untuk saudaranya seperti apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Diantara tanda baiknya tingkat dan kualitas keislaman seseorang adalah ketika ia telah mampu meninggalkan hal-hal yang tidak perlu baginya” (HR. At-Tirmidzi).




sumber  http://ustadzmudzoffar.wordpress.com
Baca selengkapnya »

ShareThis